Author Archives: Sokrates Bintana

Loading
loading..

PERCETAKAN BINTANA DARI MASA KE MASA

25 September 1994 

Mulai beroperasi di Tanjungpinang. Pertama kali beroperasi  dengan Sistem Cetak Jarak Jauh (SCJJ) di Sei Jang, Tanjungpinang

Gedung percetakan pertama di Sei Jang Tanjungpinang. Koran edisi pertama yang dicetak Bintana

Tahun 1998

Pindah ke Sagulung, Tanjunguncang  melihat pesatnya perkembangan Batam.

Tahun 2005

Pindah ke  Batam Centre, bergabung dengan penerbit di Graha Pena.

 

Tahun 2010

Merintis Divisi Cetak Komersial, dengan mesin satu warna dan mendirikan PT Batam Media Grafika, cetak offshet dan  digital printing.

Penghargaan Kinerja Percetakan Terbaik I Riau Pos Grup

Penghargaan Percetakan paling efisien terbaik III se Jawa Pos Grup

 

Tahun 2011

Pemasangan Mesin DGM  four high dari Makassar . Instalasi mesin tercepat, hanya tiga hari!  Tambah satu mesin mono dan mampu mencetak 32 halaman full colour

Penghargaan khusus Kinerja Commercial Print Terbaik dan Perusahaan Paling Kreatif se Riau Pos Grup.

Perusahaan terbaik II Kategori Percetakan Jawa Pos Media Grup Award.

 

Tahun 2012

Investasi mesin offshet GTO 52 merek Heidelberg. Dari Computer to Plate (CTP) tahun menggunakan CtCv tahun  2012.  Era kalkir dan polyster pun berakhir.

Pemasangan Splacer dan Folder dari New Zealand. Folder lama 15.000 eks/jam. Folder baru 28.000 eks/jam, bisa cetak buku .

Membangun Percetakan Bintana Unit II di Tanjungpinang

Tahun 2017

23 Desember 2017 pindah kembali ke gedung lama di Jalan Lintas Sagulung, Tanjunguncang.

 

Tahun 2018

Menempati marketing office di Baloi Point.

 

 

Bintana, Percetakan Pertama di Kepri

Sejarah mencatat, PT Ripos Bintana Press, adalah percetakan koran pertama di Kepulauan Riau. Percetakan ini memakai nama Bintana karena memang sejak awal didirikan di Tanjungpinang, Pulau Bintan.

Percetakan Bintana mulai beroperasi sejak 25 September 1994 atau sudah lebih 24 tahun lalu. Saat itu, Bintana mencetak koran Riau Pos. Sesuai perubahan zaman, percetakan Bintana mencetak Sijori Pos, Batampos, Posmetro, Batamnews, dan Tanjungpinang Pos.

Juga pernah mencetak koran Media Kepri, puluhan koran mingguan, tabloid, hingga koran Singapura. Kini, percetakan Bintana tetap mencetak harian Batampos, Posmetro dan Tanjungpinang Pos serta beberapa koran mingguan dan tabloid.

Bagaimana proses instalasi mesin cetak ini?  Mengirim tiga unit mesin cetak ke Tanjungpinang, 24 tahun yang lalu bukan pekerjaan gampang. Saat itu, tidak ada fasilitas bongkar muat alat berat di pelabuhan. Padahal, mesin cetak itu beratnya antara 3-5 ton.

Mesin-mesin itu lalu dibawa dengan truk, lalu naik kapal ke lokasi percetakan di Sei Jang, Tanjungpinang agar tak perlu dibongkar di pelabuhan. Celakanya, forklif yang biasa dipakai menurunkan mesin tidak ada. Mesin cetak itu lalu diturunkan dengan titian kayu yang landai, lalu ditarik satu demi satu!  Mesin itu ditarik pakai mobil lain, lalu  diikatkan ke pohon dan truknya bergerak menjauh.

Pemasangan mesin juga tak kalah sulitnya. Tidak ada crane, katrol pun jadi. Mesin cetak itu dipasang satu demi satu dengan cara diderek pelan-pelan. Akhirnya, dengan kerja keras tak kenal lelah, mesin cetak itu berhasil diset-up. Data-data, baik berita maupun foto, dikirim via satelit. Gradasi dan transmisi data berjalan lambat. Halaman koran di lay-out di Pekanbaru, di cetak di Tanjungpinang dan beredar di Batam dan Kepulauan Riau.

Tanggal 25 September 1994 Sistim Cetak Jarak Jauh (SCJJ) di Indonesia dimulai. Koran-koran di Batam yang sebelumnya beredar siang, sejak saat itu Riau Pos terbit pagi di Tanjungpinang dan Batam. Harmoko, Menteri Penerangan saat itu yang kebetulan ada di Batam juga kaget.  Sebab, biasanya paling cepat koran beredar di Batam jam 10.00 pagi yang diangkut pesawat pertama. ‘’ Ini koran sini ya? ‘’ katanya, tak yakin. Sejarah pers di Kepri pun dimulai.

Jantung dan urat nadi surat kabar adalah percetakan. Sangat sulit koran berkembang jika tak punya percetakan sendiri. Setelah beroperasi selama empat tahun, pada 1998 percetakan Bintana di Sei Jang Tanjungpinang, pindah ke Sagulung Batam. Dan tahun 2005 pindah ke Batam Centre, hingga sekarang. Sebagai perusahaan sister company Batam Pos, Posmetro Batam, Tanjungpinang Pos, percetakan Bintana tidak tinggal diam dan terus mengembangkan bisnisnya.

Pada tahun 2010, Bintana mulai mengembangkan bisnis cetak komersial, mengikuti trend cetak digital seiring berkembangnya internet. Lalu, berdirilah anak perusahaan Bintana yakni PT Batam Media Grafika, yang mencetak semua barang cetakan selain koran dan tabloid, seperti buku, majalah, lembar kerja siswa (LKS) dan sebagainya.

Kini, Bintana dipercaya mencetak aneka barang cetakan seperti buku, kalender, brosur, poster, majalah, news letter, inject print serta laser print yang serba digital.  Selain melayani kebutuhan cetakan Batam Pos Grup, juga sekolah, perbankan, Indomaret, Hypermart, Dinas Pendidikan, Bea Cukai, perusahaan swasta hingga konsumen dari Singapura dan Australia

Dunia kini dipengaruhi oleh bisnis yang serba digital. Bisnis internet dan cetak digital, seperti satu tarikan nafas. Industri  inovasi itu kini memiliki pengaruh dan kekuatan besar dalam pertumbuhan ekonomi. Paling tidak, ini menimbulkan optimisme bahwa surat kabar, berkaitan dengan teknologi tinggi yang terus berubah. Jika sebelumnya ada kekhawatiran bisnis surat kabar akan meredup seiring maraknya televisi lokal dan internet, setidaknya kini bisa hidup berdampingan untuk membangun peradaban di muka bumi ini.

Tahun 2012, napak tilas sejarah percetakan terulang. Kemajuan Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Kepri dan pesatnya pertumbuhan Tanjungpinang Pos sehingga diputuskan mendirikan percetakan baru di Kota Gurindam itu kembali. Lokasinya Jl Sultan Sulaiman, Kampung Bulang Nomor 34 Tanjungpinang. Kami menamakan percetakan baru ini Bintana Unit II Tanjungpinang.

Maka, proses renovasi gedung, pemasangan tapak mesin sepanjang 18 meter, septic tank chemical, pemindahan dan instalasi  mesin cetak, penambahan daya listrik 100 KVA dan terakhir test print sebelum percetakan itu beroperasi, pun berjalan lancar. Semua karyawan Bintana turun tangan dan dikerjakan sendiri. Kecuali menggali tapak mesin menggunakan alat berat.

Kini, tinggal menambah satu tower mesin web berikut reel stand dan perangkat lainnya di percetakan Tanjungpinang sehingga Tanjungpinang Pos akan dicetak di Tanjungpinang. Selain akan lebih cepat sampai ke tangan pembaca, jarak antara Batam dan Bintan akan terpangkas satu jam.

 

***

Bisnis dan dunia percetakan terus melakukan inovasi. Mesin yang digunakan mencetak koran, juga terus diperbaharui, baik kemampuan maupun teknologinya. Mesin-mesin cetak makin canggih. Mesin-mesin baru, selalu bermunculan dalam pameran kelas dunia seperti di Dusseldorf, Jerman atau China Print di Beijing atau Sanghai. Mesin yang ditampilkan mengutamakan inovasi, desain yang kompak, menghasilkan kualitas cetak terbaik. Tentu saja ini memberikan keuntungan bagi perusahaan yang mengutamakan kualitas dan kepuasan konsumen, serta efisiensi dan efektivitas.

Kemampuan bongkar pasang mesin dan rekayasa teknik karyawan Bintana juga terus meningkat. Mereka makin terlatih karena diikutsertakan pada pemasangan mesin-mesin cetak Jawa Pos Media Grup yang tersebar di seluruh Indonesia. Saat mengganti empat tower mesin, karyawan Bintana memecahkan rekor waktu pasang mesin paling cepat. Hanya tiga hari dengan tingkat presisi yang terjaga dan tidak mengganggu jadwal terbit koran. Begitu juga saat men set up mesin cetak di Tanjungpinang.

Meski surat kabar tak bisa dipisahkan dari percetakan, namun tak banyak wartawan yang memahami cara kerja dan bisnis percetakan. Jabatan tertinggi seorang wartawan adalah menjadi pemimpin redaksi. Saat dipercaya menjadi pemimpin umum atau gerenal manager, saat itulah ia harus bersentuhan dengan aspek bisnis surat kabar sebagai bagian dari industri media. Surat kabar sebagai sebuah produk sebagai hilirnya, dan hulunya adalah percetakan.

Saya beruntung diberi kepercayaan mengurus percetakan. ‘’Belajarlah tentang percetakan,’’ pesan Chairman Riau Pos Grup Rida K Liamsi kepada saya, tahun 2009 lalu. Padahal, saya tidak memiliki latar belakang teknik atau mesin. Tapi saya yakin, aspek sumber daya manusia sangat vital dalam industri percetakan. Apalagi, percetakan Bintana, memiliki karyawan dengan loyalitas tinggi, keahlian tentang mesin cetak serta kerja sama tim yang handal.

Karyawan PT Ripos Bintana Press bertekad menjadikan Bintana sebagai percetakan modern, profesional dan kreatif di Kepulauan Riau. Jika dikelola dengan sungguh-sungguh, kerja keras dan cerdas serta trengginas, bisnis percetakan memang tidak ada matinya. Saat rol kertas berputar dan eksemplar demi eksemplar surat kabar tersusun di foulder dinihari, dari situlah jantung surat kabar terus berdegup, menyapa para pembacanya. (socrates)

HP Indigo Mesin Cetak Digital Pintar

SETELAH Hewlett Packard (HP) mengakuisisi Indigo, perusahaan teknologi dan informasi ini makin berkibar di bisnis digital. Kini, HP Indigo menjadi pemimpin pasar mesin cetak komersial digital dan menguasai 75 persen pasar dunia cetak foto digital. Yang paling anyar, mereka meluncurkan HP Indigo 10000 Digital Press, di Singapura. Seperti apa kecanggihannya?

BISNIS internet dan cetak digital, seperti satu tarikan nafas. Industri  inovasi itu kini memiliki pengaruh dan kekuatan besar dalam pertumbuhan ekonomi. Setelah menjadi jawara dalam pameran internasional di Drupa Jerman, perusahaan kelas dunia ini kembali meluncurkan mesin cetak digital HP Indigo 10000, 6 sampai 8 Maret 2013 lalu, di Singapura.

Puluhan pelaku bisnis percetakan berkumpul di Singapura, yang berasal dari Thailand, Filipina, Vietnam, Myanmar dan Indonesia. Peserta diinapkan  di Hotel Pan Pacific, Marina Square. HP Indigo beberapa kali meluncurkan mesin cetak, packaging dan cetak digital. Mulai dari seri 5600, 7600 hingga yang terbaru HP Indigo Digital Press 10000. Tahun lalu, juga diluncurkan HP Indigo 3550 Digital Press, yang mampu mencetak gambar berskala besar dan berkualitas tinggi. Mesin jenis ini, mampu mencetak lima warna. Yakni warna cyan, magenta, yellow, black dan warna kelima melalui HP IndiChrome Ink Mixing System.

Menurut General Manager HP Indigo Ronen Samuel, dunia kini dipengaruhi bisnis yang serba digital. Seperti dilaporkan Biro Analisa Ekonomi Amerika Serikat, pendapatan iklan makin menjauh dari media tradisional seperti surat kabar, televisi, media luar ruang beralih ke saluran baru seperti iklan display, mesin pencari (search engine), email dan mobile phone. Saluran media baru ini, rata-rata tumbuh 10 sampai 30 persen.

Bagaimana dengan bisnis cetak offset? Menurut Ronen, sejak lima tahun terakhir, keuntungan pemain bisnis utama mesin offset, turun drastis. Sebut saja seperti Heidelberg, labanya turun 91%, Komori turun 69 % dan KBA turun 55 % sejak tahun 2007 lalu, secara akumulasi.

Kini, muncul pelaku industri baru dengan pertumbuhan yang mencengangkan, seperti Apple dengan produk Iphone 5, Ipad 3 menjelma menjadi perusahaan yang paling menguntungkan di seluruh dunia. Begitu pula Amazon.com dengan kapitalisasi pasar mencapai 116 Miliar US Dollar dan Shutterfly bisnis foto online gratis, dengan keun-tungan 400 miliar US Dollar.

HP Indigo, kata Ronen, selama 18 tahun menciptakan produk masa depan. Hasilnya, menjadi mesin cetak digital nomor 1 di dunia, kecepatan dua kali lipat, mengutamakan kualitas dan fleksibilitas, paling ekonomis dan menciptakan mesin dengan format besar 2,5 kali. Kehadiran HP Indigo 10000 Digital Press yang terbaru, menyempurnakan mesin cetak digital yang sudah ada.

Inilah keistimewaan HP Indigo 10000 Digital Press: Mampu mencetak ukuran B2 atau setengah plano dengan ukuran kertas 75 cm x 53 cm, dengan kualitas cetak sangat bagus, bisa mencetak kalender, poster dan buku berukuran besar. Cara kerja mesin cetak digital ini, seperti mesin web yang biasa dipakai mencetak surat kabar.

Kertas yang digunakan bukan gulungan, dan ada pilihan ukuran, sebelum diproses dengan laser kecepatan tinggi. Lalu, ada photo imaging plate, blanket dan silinder. Jika pada mesin web dan offset plat hanya sekali pakai, pada HP Indigo plat bisa dipakai berulang kali yang terbuat dari aluminium foil yang ditransfer ke blanket.

Berat mesin cetak HP Indigo 10000 Digital Pres ini sekitar 11 ton dan harganya dibanderol Rp15 Miliar. Mesin ini mudah dioperasikan, serba otomatis, alur kerja pra cetak dan cetak yang terintegrasi dan limbah kertas (waste) yang sangat sedikit. Mesin cetak pintar ini juga tidak berisik saat dioperasikan.

Mesin ini tingginya 2,4 meter dan panjangnya 8 meter sehingga tidak memerlukan ruangan yang luas. Penutup mesin bisa dibuka semudah membuka kap mesin mobil. Tinggal diangkat ke atas, rol, tinta, blanket, silinder hingga kamera dan photo imaging, bisa dilihat dengan jelas.

Mesin cetak HP Indigo 10000 Digital Press ini, mampu mencetak dengan tujuh warna. Selain warna dasar cyan, magenta, yellow dan black, ditambah dengan warna oranye, ungu dan hijau. Tinta yang digunakan HP Indigo 10000 ini, diproduksi secara khusus dan berbentuk pasta dalam tabung khusus di pabrik tinta modern.

Tinta yang disebut Electrolnk, merupakan tinta cair yang unik dan mengandung partikel pigmen dan bahan dasar resin dan dicampur bijih plastik (plastic polymer) yang diaduk merata dalam tabung magnit. Sehingga, menghasilkan cetakan berkualitas tinggi, gambar yang tajam dan halus. Hasil cetak melebihi hasil cetak offset konvensional sehingga bisa menghemat kertas, tinta dan plat dan hemat biaya produksi sebesar 35 persen.

Tinta ElectroInk, yang menggunakan partikel-partikel kecil dari pigment warna yang tersuspensi di Imaging Oil (Isopar) bisa tertarik atau ditolak dengan cara diferensial tegangan. Tinta membentuk lapisan plastik yang sangat tipis dan halus pada permukaan kertas. Hasil cetak Indigo mendekati penampilan pencetakan offset lithography konvensional, dimana tinta sebenarnya diserap ke dalam kertas.

Menurut tim HP Indigo Per Gede Arild, saat pameran percetakan sedunia Drupa 2012 di Dusseldorf Jerman, banyak perusahaan yang menyajikan prototipe mesin cetak digital B2. Namun, keuntungan yang dijanjikan mereka jauh dari kenyataan. Kemampuan cetak HP Indigo 10000 Digital Press, baik dari segi kualitas, ukuran dan jenis kertas mengungguli mesin sejenis seperti Fuji Jetpress, MGI Alphajet, Komori, Konica, Minolta dan Landa.

Kemampuan produk HP Indigo berbagai seri, sudah teruji. Tidak hanya mencetak  poster, label, ataupun buku, HP Indigo juga mampu mencetak wallpaper untuk ruangan dan bahkan sticker untuk berbagai jenis kendaraan. Komitmen HP menghadirkan produk yang mengutamakan inovasi, desain yang kompak, menghasilkan kualitas cetak terbaik. Tentu saja ini memberikan keuntungan bagi perusahaan yang mengutamakan kualitas dan kepuasan konsumen, serta efisiensi dan efektivitas.

 

Hewlett Packard (HP) didirikan sejak 74 tahun lalu oleh dua sekawan yang semula ber-kantor di sebuah garasi, kini menjelma menjadi perusahaan global di bidang informasi teknologi. Produk pertamanya adalah audio resistansi untuk menguji peralatan sound. Tahun 1974, HP mulai merambah medan gelombang mikro dengan generator sinyal.  Tahun 1968 HP memperkenalkan desktop pertama di dunia kalkulator ilmiah dengan program kartu magnetik.

Pada era 80-an, HP menjadi pemain utama dalam industri  komputer dan mempelopori penggunaan komputer layar sentuh (touch screen) dan tahun 1998 memperkenalkan Personal Digital Assistant (PDA) yang pertama di dunia.  HP makin dikenal dengan produk-produk IT seperti komputer, printer, scanner dan sebagainya. Dan pada abad ke 21, HP mulai merambah ke bisnis percetakan, personal computer (PC), perangkat lunak, layanan dan infrastruktur

Mesin cetak Indigo ditemukan oleh Benny Landa tahun 1977. Landa dikenal sebagai pelopor mesin cetak berwarna. Minat dan bakat kreatifnya diawali saat bekerja di studio foto milik ayahnya. Ia berbisnis foto paspor yang dicetak dengan film positif dengan alat buatannya sendiri.

Saat bekerja di perusahaan Imaging Technologies, ia menemukan teknologi pencitraan inti dan menemukan tinta cair electrolnk yang cocok untuk percetakan digital yang berkembang sangat cepat. Tinta cair itu, bila dipanaskan akan berubah menjadi plastik. Pada tahun 1995 Indigo meluncurkan produk revolusioner lain: Omnius Pressn yang mampu mencetak di berbagai permukaan, termasuk plastik, film karton, dan terutama, kaleng, botol, dan permukaan kemasan lainnya.

Tahun 2001, HP mengakuisisi seluruh saham Indigo. Di bawah kepemilikan HP, Indigo dikembangkan dan tumbuh menjadi pemimpin dunia dalam pasar mesin cetak komersial digital. HP mengklaim, saat ini lebih 5.000 unit mesin HP Indigo digital press yang beroperasi di seluruh dunia. Sedangkan Landa, menciptakan mesin cetak baru yang dinamakan dengan namanya sendiri.

Berbagai produk HP Indigo kini telah tersebar di 100 negara di dunia, dengan Amerika Utara sebagai pasar terbesarnya dan diikuti oleh China di peringkat kedua. Di Asia Pasifik sendiri, produk HP Indigo yang sudah terjual terhitung lebih dari 1000 unit, lebih dari 50 % di antaranya terjual di Indonesia. Dari segi pangsa pasar, HP Indigo telah mencapai angka 51% di seluruh dunia, 72% di Asia Pasifik dan Jepang, dan lebih dari 90% di Indonesia sendiri.

Bagi saya, yang ditugaskan mengembangkan bisnis Batam Pos Grup, mengikuti launching HP Indigo 10000 Digital Press dan bertemu pengusaha cetak digital se Asia Pasifik, menjadi pendorong untuk melayani konsumen dengan lebih baik. Apalagi, percetakan Ripos Bintana Pers  sebagai percetakan pertama dan terbesar di Kepulauan Riau, selama ini dikenal hanya mencetak koran dan tabloid, kini juga melayani mencetak poster, kalender, buku, majalah, dan semua jenis cetakan.

Anak perusahaannya, Batam Media Grafika selain melayani konsumen dari Batam seperti sekolah-sekolah, Dinas Pendidikan, Bea Cukai, perusahaan di Mukakuning, kini juga melayani konsumen dari Singapura dan Australia. ***

 

Percetakan : Inovasi atau Mati

Kemajuan teknologi komunikasi internet membuat orang bertanya-tanya, bagaimana masa depan percetakan dan media cetak?  Masalahnya, bukan apakah percetakan akan mati, tapi bagaimana percetakan bertahan hidup. Kata kuncinya adalah inovasi.

Akses terhadap informasi yang sangat cepat, menjadi pemicu perubahan. Mesin cetak dan printer yang semakin canggih, memungkinkan orang mencetak buletin, kartu ucapan, selebaran dan barang cetakan lainnya dengan cepat, murah, dan berkualitas tinggi. Konsumen yang makin banyak maunya, serba praktis, mendorong produsen mesin cetak terus berinovasi.

Apalagi, meningkatnya pengguna telepon pintar, laptop, printer tanpa kabel di bandara, hotel, cafe, taman, pustaka  dan ruang terbuka, menuntut percetakan semakin canggih dan bisa mencetak secara online dengan mengkombinasikan konektivitas data dan mobile phone. Misalnya, cetak digital yang bisa mencetak kapan saja dan dimana saja untuk kebutuhan pribadi. Orang bisa mencetak sesuai kebutuhan setiap saat. Sehingga, artikel surat kabar, iklan yang dibutuhkan, katalog dan sebagainya sesuka hati.

Penjualan surat kabar di beberapa negara maju, cenderung turun dan stagnan. Penyebabnya antara lain, karena menurunnya minat pembaca muda membaca surat kabat dan menjadi generasi digital. Mereka lebih akrab dengan laptop, smart phone, televisi dan internet. 

Selain itu, beralihnya sebagian iklan ke media digital dan media online, memaksa perusahaan surat kabar mengembangkan strategi baru dan melakukan konvergensi ke televisi digital, website dan portal berita. Kendati begitu, umumnya surat kabar masih mencetak dengan mesin web. Cetak digital hanya digunakan untuk kalangan terbatas seperti komunitas bisnis. Sedangkan majalah sebagian besar dicetak dengan mesin web fed dan di beberapa negara, orang dewasa membaca majalah setiap hari dan tumbuh secara signifikan.

Produsen mesin offset terkemuka asal Jepang Komori, mulai menggabung-kan teknologi offset dengan digital printing. Komori menjalin kerjasama dengan Landa dan Konica Minolta. ‘’Teknologi selalu berubah dengan cepat.  Percetakan offset mulai menggabungkan diri dengan cetak digital.  Cetak offset masih tetap stabil dan paling banyak mengadopsi teknologi baru. Apalagi, Asia Pasifik merupakan pasar terbesar bagi industri percetakan,’’ kata Marcel Kiessling, Marketing Director Heidelberg.

Yang menarik, perusahaan Jerman Koenig & Bauer AG (KBA) yang dulu terkenal memproduksi mesin web untuk mencetak koran, kini mengandal-kan mesin offset yang mampu mencetak dengan plat ukuran besar dan tenaga robot. Di Drupa 2012, KBA memamerkan mesin offset Varius 80 yang mampu mencetak di bahan plastik berkualitas tinggi,  Genius 52 UV yang bisa mencetak lima warna sekaligus serta mesin Premius yang bisa mencetak CD atau DVD dan optik 7200 buah per jam.

Pada China Print 2013, KBA menjagokan mesin cetak offset format besar Rapida 145 yang mampu mencetak 17.000 eksemplar per jam. Mesin web andalan KBA adalah  Continent2/1 yang mampu mencetak 75.000 eksemplar per jam.

KBA merupakan perusahaan terkemuka di bisnis percetakan dan sudah berusia 190 tahun. Sejak tahun 90-an, KBA masuk ke China dan mendirikan kantor perwakilan di Beijing, Shanghai, Hongkong, Dongguan, Changzou, Hefei, Wuxi dan Cengdu.

Produsen mesin cetak koran terkemuka Goss International, juga tidak mau kalah. Rick Nichols, Presiden dan CEO Goss Internasional baru-baru ini mengumumkan transformasi bisnis Goss  dan reorganisasi perusahaan.

Goss International memiliki tiga fokus utama yakni, mesin cetak koran, offset dan packaging. Di Drupa, Goss mengandalkan mesin cetak koran Goss Colorliner yang mampu mencetak 90.000 eksemplar per jam, cepat dan stabilitas mesin terjamin. Desainnya ergonomis dan serba otomatis sehingga gampang dioperasikan. Pengontrolan hasil cetak dilakukan melalui komputer layar sentuh. Selain itu, bisa mencetak 80 halaman berwarna sekaligus karena ada dua plat dalam satu silinder.

Dengan tagline, lihat sesuatu yang beda, Goss memamerkan mesin cetak koran paling inovatif Magnum Compact. Keunggulan mesin ini antara lain, bisa dioperasikan oleh satu orang, mampu mencetak empat warna sekaligus, desain minimalis dan ergonomis, kebutuhan tinta terukur secara otomatis dan bisa mencetak koran dengan oplah kecil dan biayanya sama dengan cetak digital.

Goss juga memproduksi mesin cetak untuk majalah, koran, kemasan, katalog, dan cetakan lainnya. Manum Compact bisa mencetak koran, buku dan produk semi komersial. Mengganti plat hanya butuh waktu 30 detik, webbing secara otomatis, dan bisa meratakan tinta secara otomatis.

Magnum Compact yang baru diluncurkan pada China Print sebagai mesin cetak pertama di kelasnya, sangat fleksibel, cepat dan pengoperasiannya sederhana. Hebatnya, jika ada berita yang akan diganti dan dijadikan stop press, bisa dilakukan pada saat mesin sedang mencetak koran dan menghapus plat lama secara otomatis yang bisa digunakan kembali. Magnum Compact bisa digunakan untuk mencetak koran dengan oplah sedikit, dari 500 eksemplar hingga 250.000 eksemplar.

Goss International yang sebelumnya dikenal dengan Goss Printing Press, didirikan pada 1885 dan berbasis di Woodridge, Illinois, Amerika Serikat.  Perusahaan ini berubah nama menjadi Goss International Coorporation sejak Februari 2002. Sejak Juli 2012, Goss International Corporation beroperasi sebagai anak perusahaan dari Shanghai Mechanical & Electrical Industry Co, Ltd

Selain aneka mesin yang dipamerkan, bahan pendukung percetakan seperti tinta dan plate, juga menarik perhatian pelaku bisnis percetakan. Mesin pembuat plate yang belakangan menarik perhatian pelaku bisnis percetakan untuk kebutuhan Computer To Plate (CTP) yang beralih ke teknologi yang lebih murah dan hasilnya cukup bagus seperti Computer To Convensional Plate (Ctcv) seperti Cron atau Aujitec, Agfa, Screen, Fuji dan Kodak masih jadi pusat perhatian. Pasalnya, mesin CTP kini bisa dimodifikasi menjadi Ctcv karena persaingan harga dan kualitas produk.
Dengan Ctcv, pelaku bisnis percetakan bisa menghemat setiap lembar plat sekitar 30 persen. Kecenderungan pemakaian plat thermal bakal turun lantaran semakin banyak beralih ke Ctcv dan pemasarannya makin agresif.
Menyikapi isu ramah lingkungan, efisiensi dan biaya murah, beberapa perusahaan plat  berlomba mengkampanyekan teknologi hijau dan ramah lingkungan dengan mengurangi pemakaian bahan kimia dan beralih ke air, seperti yang dilakukan Cron dan Nano Think.

Industri percetakan terus menghadapi tantangan dengan teknologi yang berubah dengan cepat, minat baca yang makin menurun dan persaingan media cetak, internet dan televisi.  Kata kuncinya adalah inovasi tiada henti sehingga ketiganya bisa berdampingan dan saling melengkapi untuk membangun peradaban di muka bumi. ***

 

 

China Print : Cetak Digital dan Kemasan

PAMERAN teknologi percetakan China Print 2013 yang digelar sekali empat tahun, kali ini diikuti 28 negara di pusat pameran internasional, Beijing selama lima hari. Seperti apa pameran terbesar kedua di dunia setelah Drupa, Dusseldorf, Jerman itu?

Hari pertama pameran dibuka saja, sudah  52.547 pengunjung dari berbagai negara, berdatangan. Menyaksikan demo mesin-mesin cetak dari yang sederhana hingga paling canggih. Peserta pameran berlomba menyajikan teknologi dan produk terbaru. China Print 2013 membetot perhatian pelaku bisnis dan profesional dari seluruh dunia. Target pengunjungnya lebih 180.000 orang.

Dibandingkan China Print yang saya ikuti tahun 2005 lalu, pameran kali ini jauh lebih gegap gempita. China Print 2013 digelar di areal seluas 160.000 m2 dan terbesar dalam sejarah pameran di China,  menempati 19 hall gedung pameran.

Lebih dari 1.300 perusahaan dari 28 negara ambil bagian dalam pameran ini. Termasuk  merek internasional seperti Heidelberg, Hawlett Packard, KBA, Mitsubishi, MAN Roland, Kodak, Canon, Konica Minolta, Fuji, Masterwork, Goss International, serta ribuan merek terkenal dari China seperti Shanghai Electric Group, Founder, Weifang Huaguang, Beiren, Cron dan sebagainya, yang selama ini memberi kontribusi pada industri percetakan global.

Ramah lingkungan, efektif, serba digital dan cerdas menjadi tema pameran China Print 2013.  Seperti pameran percetakan Drupa di Dusseldorf tahun lalu, pameran kali ini masih didominasi oleh mesin cetak komersial, kemasan (packaging), mesin finishing dan cetak tiga dimensi.  Berbagai jenis mesin, baik yang baru maupun modifikasi, dipamerkan dan menarik perhatian ratusan ribu pengunjung.

Begitu juga produsen mesin hot stamping, mesin potong, penjilid buku dan aneka teknologi percetakan yang sederhana hingga yang paling rumit, ditampilkan. Misalnya, mesin cutting laser yang mampu memotong dan menggrafir kertas dengan desain yang rumit yang diproduksi Gbos dari Dongguan, China. Mesin pembuat nomor dan barcode dari Yuyao Chaojin ikut ditampilkan.

Tidak hanya itu. Teknologi pracetak, perangkat lunak penerbitan, multi media, mesin cetak web dan offset, cetak flexographic, cetak hybrid dan digital printing, juga ambil bagian. Juga dipamerkan aneka jenis kertas, mesin pemotong kertas dan industri kemasan, alat tulis berbagai jenis tinta dan bahan kimia hingga aplikasi untuk nano teknologi.

Arena pameran, dikuasai pelaku bisnis percetakan terkemuka seperti Heidelberg 3.700 meter persegi, diikuti berturut-turut oleh Hawlett Packard,  KBA, Komori, Muller Martini, Canon, Wilson, Kodak, Manroland Sheetfed, Dinga, Konica Minolta, hingga Mitsubishi  seluas 450 meter persegi.

Sebagian besar mesin cetak dan teknologi baru yang ditampilkan adalah mesin cetak komersial seperti mesin web offset, digital printing atau kombinasi offset dan digital, yang mampu mencetak enam warna dengan kualitas tinggi. Mesin packaging yang biasa menggunakan mesin shet, kini muncul dengan menggunakan mesin web.

Mesin cetak kemasan semakin canggih dan mampu mencetak kantong kertas dengan desain rumit, mesin cetak laminating untuk ukuran poster, kalender, buku, majalah, stiker, brosur, flyer, label hingga kotak obat dan rokok dengan sangat halus dan berkualitas tinggi dan menjadi rebutan pengunjung untuk sampel produk.

Cetak digital yang mengutamakan kecepatan, kualitas dan keindahan melalui teknologi tiga dimensi, juga menjadi nilai tambah pameran ini. Sebab, industri percetakan berkaitan dengan industri kreatif, teknologi dan informasi.

Perkembangan industri percetakan yang terus berevolusi, tampil sangat mengesankan dalam lima tahun belakangan. Babak baru nano teknologi yang semakin mengecil dan mungil hingga skala nanometer atau sepermilyar meter. Meski makin kecil dan mikro, nano teknologi bisa berdampak makro yang melibatkan atom dan molekul.

Internet telah memicu revolusi dalam bisnis percetakan. Mendistribusikan data dan mencetaknya dengan biaya murah, adalah tantangan yang dihadapi percetakan di masa depan. Inovasi dan produktivitas adalah kata kunci kelangsungan percetakan.

China dengan cerdik menggelar dua pameran percetakan berskala internasional yakni China Print yang digelar sekali empat tahun dan Print China yang terakhir diadakan 2011 di Guangzhou. Selain menghadirkan teknologi terbaru, pameran menjadi sarana komunikasi yang efektif antara produsen mesin cetak dan konsumen dan membuka peluang pasar baru.

Dalam sepuluh tahun terakhir, China maju pesat dalam bisnis dan teknologi percetakan. Selain karena kemajuan ekonomi, beberapa perusahaan kelas dunia, merelokasi pabriknya ke China seperti yang dilakukan Goss International KBA dan Bobst, perusahaan packaging asal Swiss. Sehingga, selain mendorong ekonomi China, juga membantu pemain pemain kelas dunia mendapatkan tenaga murah, alih teknologi dan menjangkau pasar Asia Pasifik, Eropa Timur dan Rusia.

Pada pameran sebelumnya, pengunjung didominasi oleh perusahaan cetak komersil (32%), perusahaan percetakan 13,7 persen, cetak kemasan 7,6 persen dan perusahaan kertas 6,9 persen.  ‘’Pameran adalah sebuah komunikasi bisnis dan menyangkut perdagangan antar negara. Dengan konsumsi domestik yang sangat besar, industri percetakan menjadi bagian revitalisasi ekonomi China,’’ kata Yu Ping, Chairman China International Exhibition Center Group Corporation

Apalagi, meningkatnya konstruksi budaya dan industri kreatif, akan mendongkrak industri percetakan dan pertumbuhan ekonomi baru. Wan Jifei, Ketua CCPIT menyimpulkan dalam satu kalimat. China Print mengembangkan industri percetakan, mempromosikan budaya. Namun, pameran China Print 2013 menimbulkan kesulitan bagi pengunjung yang tidak bisa berbahasa Mandarin, sementara penjaga stand dan presentasi tidak dalam bahasa Inggris.

Jawa Pos Grup sebagai kelompok media terbesar di Indonesia, tidak pernah absen dalam pameran internasional seperti Drupa dan China Print, atau pertemuan asosiasi surat kabar sedunia seperti Wan Ifra. Pada pameran China Print, beberapa pimpinan media dan percetakan seperti Untung Sukarti (Pontianak Post Grup), Ismail Husni (Lombok Pos Grup)  Hazairin (Radar Bogor Grup) Justin dan Yunasa (Jawa Pos Grup) Zalzuli (Sumeks Grup) Ahmad (Radar Cirebon Grup) serta saya (Riau Pos Grup) hadir pada acara tersebut.

Bagaimana pun, China Print 2013 menjadi ajang membangun komunikasi antar pelaku bisnis internasional, cara efektif berpromosi dengan konsep tumbuh tambah batas. (bersambung)

 

 

Industri Media Masa Depan : Era Digital Telah Tiba

Industri media berkaitan dengan teknologi yang terus berubah. Drupa sejak lama menjadi pusat perhatian pelaku bisnis media di tanah air. Jawa Pos Grup dan Riau Pos Grup, secara rutin mengirim para pimpinan media dan percetakan ke pameran ini, baik ke China maupun Jerman. Mengapa pameran bertajuk Drupa 2012 The World’s Leading Exhibition for Print Media Industry ini penting?

Percetakan adalah jantung bisnis surat kabar. Saat reformasi bergulir, ribuan surat kabar dan tabloid terbit. Namun, dalam tempo singkat, sebagian besar berguguran dan mati. Salah satunya adalah karena tidak memiliki mesin cetak. Perkembangan teknologi mesin cetak, memang luar biasa. Ada yang menyamakan dengan penemuan abjad dan internet dewasa ini.

Tak terbayangkan saat ini hidup tanpa media dan hasil cetak, seperti buku, surat kabar, kemasan, poster, prospektus, kartu nama dan tiket. Pameran  empat tahunan Drupa atau dalam bahasa Jerman Druck und Papier  sudah berjalan 14 kali, sejak tahun 1951 atau 63 tahun lalu.

‘’Munculnya media digital belum mampu menggantikan media cetak, melainkan memperkayanya. Drupa 2012 membuka peluang baru dengan cara yang lebih cerdas. Meski di negara-negara Barat seperti Amerika dan Eropa percetakan dan media mengalami perubahan besar, namun pasar di Asia dan Amerika Latin terus berkembang secara dinamis,’’ kata Bernhard Schreier, president Drupa 2012.

Werner Matthias Dornscheidt, Presiden dan CEO Messe Düsseldorf menyebutkan, Drupa 2012 adalah pameran percetakan terbesar di dunia, yang diikuti oleh 1.850 peserta dari 50 negara yang akan menunjukkan kekuatan inovasi industri mereka, baik surat kabar, kemasan, percetakan komersial dan sebagainya.

Messe Dusseldorf bukan hanya menggelar pameran media dan percetakan. Mereka mengorganisir lebih dari 40 pameran dan 120 acara di negara lain. Pameran yang mereka gelar antara lain, mesin dan peralatan, perdagangan, kesehatan, fashion dan gaya hidup serta pariwisata. Pada Oktober 2012 mendatang, Messe Dusseldorf menggelar pameran plastik dan karet internasional. Mereka memiliki 68 perwakilan di berbagai negara.

Pameran  industri media Drupa di Dusseldorf Jerman ini, termasuk salah satu  pameran dagang terbesar di dunia, dilihat dari jumlah peserta dan pengunjungnya.  Drupa 2004 dihadiri 393.654 pengunjung dan diikuti 127 negara.  Pada Drupa 2008 jumlah pengunjung 391.000 dari 138 negara. Sedangkan Drupa 2012 ini, pada empat hari pertama, jumlah pengunjung lebih 95.000 orang yang berasal dari 87 negara. Begitu juga dengan peserta. Peserta yang mengambil bagian dalam bidang percetakan mencapai 639 peserta dengan 1.368 produk, paling banyak di antara jenis lainnya.

Kendati krisis ekonomi melanda Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa, industri media dan percetakan terus menggeliat. Buktinya, Goss International merilis mesin cetak terbaru dan canggih. Perusahaan yang bermarkas di New Hampshire Amerika Serikat ini, mengembangkan mesin cetak Colorliner Compact Printing System (CPS) dan Flexibel Printing System (FPS) yang dipamerkan di Drupa 2012. Pabriknya ada di Amerika Utara, Asia dan Eropa

Pabrikan mesin cetak koran ini yang berdiri sejak 170 tahun lalu itu, memproduksi berbagai mesin cetak seperti Mercury, Newsliner, Magnum, Universal, Uniliner, Universal, Community SSC, Colorliner dan yang paling gres Colorliner FPS dan CPS. Kelebihan mesin terbaru ini, antara lain, kualitas cetak tinggi, kecepatan cetak, serba otomatis dan bisa mencetak dalam format besar dan beroperasi nonstop.

Goss International memiliki tiga fokus utama yakni , mesin cetak koran, offset dan packaging. Mesin cetak Goss seri sebelumnya, digunakan oleh surat kabar ternama seperti  International Herald Tribune, Asahi Shimbun Jepang dan The Straits Times Singapura.

Kelebihan mesin cetak Colorliner CPS adalah, mampu mencetak 90.000 eksemplar per jam, cepat dan stabilitas mesin terjamin. Desainnya ergonomis dan serba otomatis sehingga gampang dioperasikan. Pengontrolan hasil cetak dilakukan melalui komputer layar sentuh. Selain itu, bisa mencetak 80 halaman berwarna sekaligus karena ada dua plat dalam satu silinder. Bandingkan dengan mesin cetak KBA Comannder yang hanya bisa mencetak 32 halaman berwarna sekaligus atau Uniset 64 halaman berwarna sekaligus.

Jika sebelumnya mesin Goos hanya punya satu motor listrik sehingga harus banyak kabel sehingga menyusun konfigurasi mesin lebih sulit. Kini setiap unit mesin ada motor listrik sehingga lebih sederhana dan jika tidak digunakan listriknya bisa dimatikan.  Tinggi satu unit mesin hanya 2,7 meter dan tidak memerlukan konfigurasi yang rumit seperti harus disusun menjadi empat tower.

Lorong antar mesin dirancang sedemikian rupa untuk memasang plat secara otomatis. Sistem sirkulasi udara yang diadaptasi dari Colorliner  FPS memungkinkan untuk mempertahankan suhu yang diperlukan tanpa memerlukan pendingin udara.

‘’Kami menawarkan model mesin cetak terdepan agar percetakan surat kabar lebih otomatis sehingga bisnis surat kabar tetap kompetitif dan menciptakan peluang baru,’’ kata CEO Goss International, Jochen Meissner. Colorliner CPS menggabungkan teknologi percetakan koran yang gampang dioperasikan dengan operator lebih sedikit. Model baru ini tersedia dalam konfigurasi 4×2, 5×2 dan 6×2

Perusahaan koran terkemuka di Skotlandia DC Thomson Company, akan menjadi surat kabar pertama yang akan menggunakan mesin cetak Goss Colorliner CPS. Mesin delapan tower ini, bisa mencetak sampai 90.000 eksemplar  per jam. Pemasangan mesin cetak canggih ini akan dimulai pertengahan tahun 2012  ini.

Mesin Offset produksi Goss juga canggih. Mulai dari tipe Sunday 2000 yang bisa mencetak 16 hingga 29 halaman hingga yang terbaru Sunday 5000 yang bisa mencetak 64 hingga 96 halaman sekaligus dengan ukuran plat 2,8 meter atau 112 inci.  Pabrikan mesin cetak Offset juga dikuasai Jerman seperti merek Heidelberg, AB Dick dan MAN Roland, lalu Amerika Serikat seperti Miller, Multilith Eagle, Harris Aurelia serta Jepang seperti Fuji Shinohara, Hashimoto, Sakurai dan Xerox.

Selama ini, industri media dan percetakan dirajai Amerika Serikat dan Jerman. Namun, belakangan China mulai memproduksi mesin web atau mesin cetak koran yang lebih murah dan menggarap pasar negara berkembang. India juga mulai memproduksi mesin cetak koran merek Orienex X-cel.

Belakangan, China juga rajin menggelar pameran mesin cetak, seperti di Guang Zhou, pada April 2011 tahun lalu. Batam Pos Grup mengirim Suhairi, General Manajer Ripos Bintana Press ke China. Pameran Drupa 2012 diikuti Marganas Nainggolan, Suhairi, Hasan Aspahani dan saya. Jumlah peserta dari Jawa Pos Grup sebanyak 60 orang yang berangkat dalam tiga kelompok.

Perjalanan ke Dusseldorf Jerman merupakan kunjungan ketiga bagi saya meyaksikan pameran mesin percetakan, setelah sebelumnya ke China dan melihat pabrik rekondisi mesin cetak koran merek Dauphin Graphic Machinery (DGM) di Turangga, Auckland Selandia Baru.

Paling tidak, ini menimbulkan optimisme bahwa surat kabar, berkaitan dengan teknologi tinggi yang terus berubah. Jika sebelumnya ada kekhawatiran bisnis surat kabar akan meredup seiring maraknya televisi lokal dan internet, setidaknya kini bisa hidup berdampingan untuk membangun peradaban di muka bumi ini. Mungkin sama dengan optimisme penyelenggara pameran Drupa 2012 yang akan berakhir besok 16 Mei 2012. Di semua pintu keluar, terpampang spanduk besar dengan tulisan: See You, 2-15 June 2016. ***

Pameran Industri Media Drupa Jerman, Revolusi Percetakan: Live & Close Up!

Mata gambar dalam poster itu  bergerak, ke kiri dan ke kanan. Seolah mengikuti sudut pandang orang yang melihatnya. Atau gambar orang turun dari tangga darurat dan lambang pria dan wanita di pintu toilet, bergerak turun. Ada pula gambar wanita yang mengenakan perhiasan, saat diraba muncul ke permukaan kertas, hanya dengan sekali cetak. Ini dimungkinkan dengan teknologi percetakan digital. Era cetak digital sudah di depan mata?

Ruangan pameran digital printing membetot perhatian pengunjung dari berbagai negara, pada pameran industri media Drupa 2012 di Dusseldorf, Jerman. Hal ini seolah menguatkan hasil studi bahwa percetakan offset diperkirakan hanya tumbuh 3 persen, sementara cetak digital meningkat sebesar 18 persen per tahun.

Poster yang seolah matanya bergerak itu, adalah hasil kreasi dan inovasi yang dilakukan Grapac Japan Inc, perusahaan asal Jepang menampilkan teknologi percetakan yang menggunakan teknik grafis dan lensa mikro sehingga hasil cetak yang ditampilkan seolah bergerak berdasarkan sudut pandang mata yang melihatnya.

Mereka menyebutnya Wedys atau Which Ever Direction You See atau tergantung ke arah mana mata Anda melihat.  Di situs Wedys, beberapa produk yang diciptakan sudah laku terjual dan dipesan. Cetakan jenis ini bisa digunakan untuk poster sehingga seolah-olah mata dalam gambar tersebut bergerak-gerak.

Hasil cetak Wedys sangat ekspresif, menggunakan teknik tiga dimensi dan pencitraan. Nah, bayangkan jika poster-poster tokoh politik yang maju dalam Pemilihan kepala daerah atau anggota dewan,  mata, tangan atau gambarnya bergerak-gerak, tentu akan lebih menarik. Wedys baru diluncurkan September 2011 dan dipamerkan di Drupa 2012.

Inovasi yang cukup mengejutkan dilakukan Leonhard Kurzt yang menciptakan
Mesin Hot Stamping Foils. Mesin tersebut mampu mencetak tidak hanya sekedar gambar atau foto, tapi sekaligus perhiasan seperti kalung, cincin, anting atau jam tangan yang timbul dari permukaan gambar, seolah itu perhiasan asli dan tampak nyata.

Perhiasan atau pernik-pernik itu bukan ditempelkan, tapi langsung dicetak sekaligus gambarnya.  Mesin Hot Stamping Foil ini disebut Laser Select, yang mampu menam-pilkan komposisi warna bak pelangi. Mesin ini bisa diaplikasikan pada berbagai macam produk seperti kartu, poster, plastik dan peralatan rumah tangga.  Perusahaan Leonhard Kurz Stifung sendiri berdiri sejak 1892 dan bergerak dalam bidang industri grafis.

Jika sebelumnya mesin hot stamping  masih sederhana dan manual, ukurannya pun terbatas. Biasanya, dipakai untuk mencetak undangan, ijazah, sertifikat dan cover buku sehingga tampil beda, berkilat dan terkesan mewah. Mesin Hot Stamping Kurz, mampu mencetak dengan kualitas tinggi dan ukuran lebih besar. Hasil cetakannya memberikan inspirasi bagi bagian pemasaran dan industri  grafis. Maka, tidak heran, salah satu semboyan yang digaungkan dalam Drupa 2012 adalah hasil cetakan live dan close up. Kuncinya pada kualitas cetak,  langsung, cepat dan segera bisa dilihat hasilnya.

Cetak foto, merupakan cetak digital yang paling cepat berkembang  belakangan ini mengikuti perkembangan fotografi secara digital.  Laporan Futuresource Consulting Ltd  menyebutkan, pasar foto digital di Eropa Barat mencapai 611 Miliar Euro, tumbuh 20 % dibanding tahun lalu. Diperkirakan, pasar foto digital ini akan tetap tumbuh hingga 2014.

Masih banyak mesin dan peralatan canggih yang dipamerkan. Ada mesin sablon Tex Jet Plus buatan Perancis  yang mampu mencetak gambar sangat detil, halus dan diprint langsung  pada bahan kaos. Apapun bentuk  file yang dimasukkan melalui komputer, bisa  dicetak dengan cepat.  Juga ada bahan plastik tiga dimensi dari perusahaan Jepang yang membuat hasil cetakan lebih hidup.  Cetakan ini bisa digunakan untuk membuat kartu nama, undangan, brosur dan poster.

Percetakan digital memang tengah memasuki era baru. Apalagi sejak internet merambah ke semua aspek kehidupan. Selain televisi, hasil cetak digital cukup efektif menyampaikan pesan kepada khalayak ramai. Berpikir digital, menjadi salah satu laporan khusus Drupa 2012. Apalagi, perusahaan seperti Canon Group  sudah bermain di bisnis cetak komersial, termasuk Kodak, Mapro AG dari Swiss, Adfomedia asal Belanda, RheinMail Jerman dan sebagainya.

Pesatnya perkembangan cetak digital, dipengaruhi oleh tiga faktor. Biaya percetakan yang makin murah, kualitas cetak yang makin baik serta makin terbatasnya stok kertas. Pada pameran Drupa 2008 temanya adalah Green Printing, maka pada Drupa 2012 lebih fokus pada  inovasi percetakan khususnya  cetak digital,  pra cetak dan pra media, offset, digital dan hybrid printing, proses percetakan, cetak kemasan dan pemasok berbagai peralatan cetak.

Selain berbagai inovasi mesin cetak, baik mesin web untuk mencetak koran, mesin offset dan cetak digital, berbagai peralatan pendukung percetakan, multimedia, spare part, aneka jenis kertas, plastik,  tinta, manajemen dokumen, grafis, komputer,  kemasan, marketing, iklan dan penerbitan, semua ditampilkan dalam pameran kelas dunia tersebut. Cetak digital bakal menjadi revolusi dalam bidang teknologi dan industri media yang melibatkan banyak sektor dan berbeda dengan proses percetakan sebelumnya.

Bagi Manfred Seen dari Mapro AG Swiss, cetak digital lebih eye catching alias menggoda mata dan memenuhi selera pribadi, apalagi banyak sekali isi media online yang bagus untuk dicetak.  ‘’Ada yang mengatakan bahwa digital printing industri dan teknologi  yang sudah ‘matang’ . Jika anggapan ini benar, harus ada upaya untuk menciptakan keajaiban dan perkembangan yang melambat 20 tahun belakangan ini,” kata Andreas Nielen Haberl, Product Manager Graphic Communication Group Kodak.

Mengapa cetak digital disukai? Nielen punya jawabannya. Antara lain karena disukai konsumen, bisa mencetak dalam jumlah sedikit dan biaya lebih hemat, target pasar yang memenuhi selera konsumen, bisa dibuat dalam banyak versi, bahan baku gampang didapat serta mengatasi kelebihan produksi dan limbah kertas.

Bagi saya, yang menarik adalah perubahan skala bisnis yang terjadi dan bisa dilihat pada pameran industri media di Drupa, Dusseldorf Jerman ini.. Stand pameran digital printing, jauh lebih semarak dan menarik perhatian pelaku bisnis dari berbagai belahan dunia. Misalnya, apa yang dilakukan perusahaan Jerman Koenig & Bauer AG (KBA) yang dulu terkenal memproduksi mesin web untuk mencetak koran.

Pada pameran Drupa 2012, meski tidak menciptakan mesin web terbaru, mereka mengandalkan mesin offset yang mampu mencetak dengan plat ukuran besar dan tenaga robot. Misalnya mesin offset Varius 80 yang mampu mencetak di bahan plastik berkualitas tinggi, mesin Genius 52 UV yang bisa mencetak lima warna sekaligus dan dioperasikan secara otomatis serta mesin Premius yang bisa mencetak CD atau DVD dan optik 7200 buah per jam.

Selain itu, produsen mesin offset terkemuka asal Jepang Komori, mulai menggabung-kan teknologi offset dengan digital printing. Komori menjalin kerjasama dengan Landa dan Konica Minolta. ‘’Teknologi selalu berubah dengan cepat. Trend kunci di Drupa 2012 adalah kesempatan bagi pelaku bisnis industri media untuk menunjukkan teknologi terbaru mereka. Namun, kini situasi berubah. Percetakan offset mulai menggabungkan diri dengan cetak digital,’’ kata Yoshiharu Komori, president dan CEO Komori.

Bos Afromedia, perusahaan asal Belanda yang bergerak dalam bidang pemasaran, komunikasi, desain kreatif, iklan, offset dan digital printing menegaskan,’’ Masa depan adalah era digital. Jika Anda tidak masuk ke dunia digital, maka Anda akan tertinggal,’’ tukasnya.

Bagaimana dengan Indonesia, khususnya Batam? Yang jelas, dengan jumlah penduduk termasuk lima besar dunia, pesta demokrasi bernama Pilkada di seluruh daerah, Indonesia adalah pasar yang menggiurkan. Betapa tidak. Hampir di semua kota, baliho, billboard, X-banner dan roll banner, menjamur. Belum lagi saat musim Pilkada tiba, kebutuhan poster, kartu nama, kaos dan semua kebutuhan pencitraan diri, laku keras. Ditambah  lagi partai politik dan organisasi sosial kemasyarakatan yang banyak itu, membutuhkan produk cetakan untuk sosialisasi dan komunikasi dengan konstituen dan anggotanya.

Selain Pilkada, meningkatnya anggaran sektor pendidikan, menjamurnya iklan outdoor sehingga tahun 2009 saja, pertumbuhan cetak digital mencapai 70 persen per tahun. Idealnya, Indonesia memiliki 100 ribu perusahaan grafika melihat peluang di bisnis cetak digital. Namun, saat ini baru 100 ribu perusahaan cetak digital dan sebagian besar masih tergolong usaha kecil menengah. Apalagi, mesin-mesin cetak digital umumnya buatan luar negeri yang relatif  mahal. Meski ada mesin cetak digital buatan China, Taiwan dan Korea yang murah, hasilnya tidak maksimal dan tidak tahan lama.

Satu lagi, kecendrungan orang untuk narsis yang menyalurkan lewat facebook atau media online dan jejaring sosial, membuka peluang untuk cetak digital yang cepat, murah, dan berkualitas. Toh, kita hanya kalah dari Amerika Serikat dalam soal jumlah pengguna facebook. (bersambung)

Melihat Rekayasa Teknik Mesin Cetak Koran di New Zealand

Mesin cetak ibarat jantung bisnis surat kabar. Kendati berbagai negara terus mempro-duksi mesin cetak koran, kualitas dan kemampuannya tidak sama. Webco New Zealand  merekondisi mesin cetak merek Dauphin Graphic Machinary (DGM) buatan Amerika Serikat dan memasarkan ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Perusahaan yang memproduksi mesin cetak koran DGM berbasis di Pennsylvania Amerika Serikat, yang kemudian menjadi kekuatan global dalam industri surat kabar. Webco Ltd melayani industri surat kabar dalam bentuk penjualan spare part, rekondisi mesin agar menghasilkan kualitas cetak terbaik, hingga pelayanan purna jual selama dua puluh empat jam.

Webco Ltd New Zeland berlokasi di Birch Avenue, Tauranga sekitar 200 kilometer dari Auckland. Tauranga merupakan salah satu kota pelabuhan tersibuk di New Zealand.

‘’Jika mesin cetak koran rusak atau bermasalah, tidak mungkin koran berhenti terbit, sehingga kami melayani penerbit koran selama 24 jam, baik untuk spare part maupun servis mesin,’’ kata Managing Director Webco New Zealand, Brendon Whitley. Untuk menyaksikan pabrik rekondisi mesin cetak DGM ini, menempuh perjalanan selama 10 jam penerbangan ke Tauranga, New Zealand.

Webco memilih hanya mereparasi dan merekondisi mesin cetak merek DGM. Sebab, bahan baku mesin percetakan merek ini, memiliki daya tahan dan kualitas tinggi. ‘’Mutu mesin DGM lebih baik dari mesin merek lain. Setelah direkondisi, mesin ini mampu mencetak koran lebih bagus dan memiliki daya tahan hingga 25 tahun,’’ papar Brendon Whitley.

Mesin cetak DGM awalnya lebih banyak digunakan di Amerika Serikat.  Mesin cetak yang pertama kali diproduksi dengan merek Goss tahun 1973 itu, makin diminati oleh negara-negara lain. Webco memiliki spesialisasi mesin DGM dalam merekayasa teknik dan meningkatkan kemampuannya, baik soal konfigurasi halaman, tingkat presisi hasil cetak, serta kemampuan cetak halaman berwarna.

Menurut Brendon Whitley,  selain melayani rekondisi dan perlengkapan mesin cetak DGM, tim Webco memiliki kemampuan yang handal menangani mesin cetak merek DGM. ‘’Ini pekerjaan yang kompleks dan memerlukan tingkat akurasi yang tinggi. Kami percaya, mesin cetak DGM tetap yang terbaik dalam industri surat kabar,’’ katanya seraya mencontohkan, rekondisi mesin merek lain hanya mampu bertahan 4 tahun, sementara DGM bisa beroperasi hingga 25 tahun.

Mesin-mesin DGM tersebut didatangkan dari Amerika Serikat atau Kanada, lalu dire-kondisi dan suku cadang yang tidak layak diganti dengan yang asli. Tauranga yang terletak di tepi pantai Laut pasifik, sehingga menjadi kawasan strategis untuk menerima dan mengirim mesin-mesin tersebut ke berbagai negara di Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Asia.

Mesin-mesin cetak koran yang pernah direkondisi melalui rekayasa teknik di Webco New Zealand antara lain, Solomon Star, The Phnom Penh Pos, Le Gratuit, Fiji Times, Advertiser, Fiji Sun dan Padang Ekpres, salah satu koran Riau Pos Grup. Dalam waktu dekat, akan segera menyusul Riau Pos, Batam Pos, Rakyat Bengkulu dan Sumatera Ekspres.

Webco tidak hanya memasarkan mesin cetak merek DGM ke berbagai Negara Asia Pasifik, Kanada, Australia dan Amerika Serikat. Juga melayani pertanyaan operator mesin cetak melalui chatting, email dan telepon setiap saat. Perbedaan waktu Indonesia dan New Zealand enam jam, memungkinkan untuk itu, karena saat koran naik cetak, di New Zealand sudah pagi. Selain itu, Webco mau melakukan transfer teknologi mesin cetak dengan memberikan pelatihan untuk operator mesin cetak DGM.

Menurut Brendon Whitley, meski penetrasi internet semakin meluas, namun ia optimis surat kabar tidak akan tergantikan dan kalah dengan media online dan ipad. ‘’Perkembangan internet memang pesat, tapi tidak akan mematikan karena membaca di internet dan Ipad, merepotkan. Anda harus scroll-scroll terus untuk membaca,’’ ujar Brendon sambil memainkan ibu jarinya.

Jauh sebelum era internet mewabah seperti saat ini, kemunculan industri televisi tahun 1950-an, dinilai akan mengancam dominasi media cetak. Namun, sampai saat ini, koran masih terus bertahan. Sebab, koran memiliki karakter khusus yang membe-dakannya dengan televisi dan radio.

‘’Saat krisis melanda Amerika Serikat, memang berpengaruh pada sirkulasi dan oplah surat kabar. Namun, setelah krisis dan ekonomi mereka bangkit, bisnis surat kabar tumbuh lagi. Buktinya, pesanan mesin DGM dari kami makin meningkat,’’ kata Brendon, tersenyum.

Mesin yang sudah direkondisi dan suku cadangnya diganti, selain mampu mencetak lebih cepat dalam jumlah lebih banyak, juga menghasilkan kualitas cetak yang lebih baik. Selain itu, konfigurasi halaman dengan menambah empat tower, mampu menghasilkan halaman berwarna yang lebih banyak.

Selain menyuguhkan berita-berita terbaru, surat kabar juga memberikan informasi produk, promosi dalam bentuk iklan. Dengan penyempurnaan dan mempercanggih mesin cetak, merupakan komitmen Riau Pos Grup yang menjadi bagian Jawa Pos Grup meningkatkan pelayanan dan kepuasan konsumen.

Jaringan surat kabar dan televisi lokal serta percetakan Jawa Pos National Network, kini merupakan jaringan media terbesar di Indonesia yang membentang dari Aceh hingga Papua. Riau Pos Grup sendiri, merupakan grup media terbesar di Sumatera di lima provinsi yang meliputi Nanggroe Aceh Darusalam, Sumut, Sumbar, Riau dan Kepulauan Riau.

Saat reformasi, media cetak di Indonesia tumbuh luar biasa. Data Dewan Pers menyebutkan, tahun 1997 hanya ada 289 media cetak. Namun tahun 1999 tercatat sebanyak 1.687 media cetak. Sepuluh tahun kemudian, tahun 2009 hanya tinggal 951 media cetak. Dari jumlah sebanyak itu, hanya 30 persen yang sehat secara bisnis. Artinya, hampir separuh berhenti terbit.

Salah satu kendalanya, selain tidak diterima pasar, adalah ketiadaan mesin cetak. Inilah salah satu bukti bahwa percetakan merupakan jantungnya bisnis surat kabar. Ketika jantungnya tak berdegup lagi, bisa ditebak apa yang akan terjadi***

Layout mode
Predefined Skins
Custom Colors
Choose your skin color
Patterns Background
Images Background